PELALAWAN- Ulang tahun ke-25 Kabupaten Pelalawan adalah momen penting. Seperempat abad, sebuah usia yang seharusnya menjadi tonggak kematangan bagi daerah ini. Namun, sebagai salah satu yang tinggal di perumahan dinas Wakil Ketua DPRD Pelalawan selama empat minggu terakhir, hati saya terasa berat. Di balik segala kemegahan yang terlihat dari luar, ada satu hal yang tak bisa saya abaikan kondisi parit di Komplek Perkantoran Bakti Praja.
Saya datang dengan harapan bisa menyaksikan lingkungan yang bersih, rapi, dan nyaman. Tetapi kenyataan yang saya temui sangat mengecewakan. Parit di sini seperti tong sampah raksasa yang memanjang, dipenuhi sampah yang tak kunjung diangkat. Setiap hari saya melihat bagaimana petugas kebersihan taman dan jalan bekerja keras, namun masalah ini tak kunjung selesai. Bahkan, mereka sendiri mengakui bahwa parit sudah lama menjadi tempat pembuangan sampah sembarangan.
Apa yang terjadi? Mengapa tak ada tindakan tegas? Ketika saya berbicara dengan petugas kebersihan, mereka hanya menggeleng. “Ini masalah antara DLH dan PUPR, Pak,” kata mereka. Saling menyalahkan antara Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum, tentang siapa yang bertanggung jawab atas sampah di parit ini, membuat masalah tak terselesaikan. Ego dinas yang lebih mementingkan diri daripada kepentingan bersama sungguh membuat miris.
Ironis, bukan? Di hari ulang tahunnya yang ke-25, Pelalawan yang seharusnya menjadi simbol kemajuan, malah tersandung oleh persoalan dasar seperti sampah. Slogan kebersihan dan keindahan hanya terdengar indah di telinga, tapi tidak tercermin dalam kenyataan. Mungkin kami di DPRD juga salah, kurang maksimal dalam mengawasi, atau mungkin dinas terkait tak lagi punya rasa memiliki yang kuat terhadap kabupaten ini. Apakah mereka menganggap persoalan ini sepele?
Lebih menyedihkan lagi, di tengah ketidakpedulian ini, bahaya nyata muncul. Selama tiga hari berturut-turut, ular kobra masuk ke rumah dinas saya. Bukan hanya kobra, tapi juga tikus, kalajengking, dan hewan-hewan berbahaya lainnya, seolah parit yang tak terurus ini ingin menjadi habitat bagi mereka. Saya merasa khawatir, bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk semua orang yang tinggal di sekitar sini.
Hari ini, di usia yang ke-25, Pelalawan layaknya sebuah perak yang masih berkarat. Banyak cita-cita yang belum terwujud, banyak harapan para pendirinya yang belum terealisasi. Tapi ini bukan akhir, hanya sepenggal kisah dari perjalanan panjang yang masih bisa diperbaiki. Kita semua, dari jajaran DPRD hingga seluruh dinas, harus kembali merapatkan barisan. Ini bukan soal parit, tapi tentang rasa memiliki, tentang kepedulian kita pada tanah yang kita pijak ini.
Selamat ulang tahun, Pelalawan. Semoga dengan bertambahnya usia, kita tak hanya merayakan dengan pesta dan kemeriahan, tetapi juga dengan tindakan nyata. Mari kita wujudkan impian para pendiri, dan jadikan Pelalawan rumah yang bersih, aman, dan nyaman bagi semua. ***
Bahrudin,SH, MH
Wakil Ketua DPRD Pelalawan






