Pelajar SD di Bangkinang Diduga Keracunan Usai Santap Nasi Goreng MBG Program Pemerintah Prabowo-Gibran
Bangkinang.~ Siswa Kelas 2c SDN 006 Lang gini, Kecamatan Bangkinang Kota inisial DA diduga keracunan usai menyantap menu MBG. Kamis (28/8) lalu.
Bocah yang masih berseragam merah putih itu dikabarkan dirawat intensif di RSUD Bangkinang, Kabupaten Kampar.
Orang tua korban, Rouda Anis menyebut anaknya muntah-muntah, usai menyantap menu MBG yang disajikan pihak sekolah dari dapur MBG:
“Awalnya anak saya makan nasi goreng. Tak lama setelah itu muntah-muntah dan langsung saya bawa pulang,” ungkap Rouda kepada rekan media di Kampar, Selasa (2/9).
Setelah dibawa pulang, kondisi DA tidak mengalami perubahan, Bocah itu mengaku sesak dan matanya pucat hingga dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang.
“Jumat sempat pulang, tapi Sabtu sore masuk lagi karena setiap makan dan minum langsung muntah,” beber orang tua DA.
Rouda mengaku tidak hanya anaknya saja yang terdampak, namun ada belasan orang teman anaknya mengalami hal serupa.
“Di kelas anak saya saja ada 10 orang yang mengalami gejala serupa. Dua di antar korban harus dirawat di rumah sakit,” katanya.
Wanita berhijab itu berharap pengelola MBG dan pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas agar hal serupa tidak kembali terulang yang mengancam keselamatan anak sekolah.
“Tolong jangan sampai ada korban lagi. Anak-anak ini makan apa yang diberikan tanpa tahu apakah masih layak atau tidak,” ucapnya sedih.
Terpisah, Kepala Sekolah SDN 006 Langgini, Ema Astuti, menegaskan pihaknya langsung mengambil langkah tegas usai insiden dugaan keracunan makanan dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa pelajar di sekolah yang dia pimpin.
Ema bilang, berdasarkan data yang dirangkum ada 18 siswa mengalami gejala mual dan sakit perut, bahkan dua di antaranya sempat dirawat di rumah sakit.
“Kami sudah membentuk tim pengawas di setiap kelas. Sebelum makanan didistribusikan, selain itu kami akan mengecek kelayakan makanan. Jika dinilai tidak layak, kami akan kembalikan ke dapur. Jika layak, baru diberikan ke anak-anak untuk dijadikan dikonsumsi,” pungkas Ema.






