Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Pasar Tuah Serumpun Tualang Kian Sepi, Pedagang Bertahan Hidup Demi Sesuap Nasi

Pasar Tuah Serumpun Tualang Kian Sepi, Pedagang Bertahan Hidup Demi Sesuap Nasi

SIAK – Matahari belum sepenuhnya menampakkan wujud ketika pedagang di Pasar Tuah Serumpun Tualang mulai menata dagangan, suasana yang dulu ramai aktivitas kini terasa hampa.

Beberapa kios terlihat terbengkalai, atap sengnya menganga, pintunya sudah hilang. Pemandangan itu menjadi potret sepinya pasar yang dulu pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Tualang.

Di beberapa los, aktivitas jual beli masih berlangsung, khususnya di los sayur, bumbu, ikan, dan daging.

Namun tidak demikian dengan los pakaian. Dari puluhan kios yang dulu penuh sesak, kini hanya dua hingga tiga pedagang yang masih bertahan.

Selebihnya sudah menutup usaha, gulung tikar, bahkan beralih profesi lain untuk sekadar menyambung hidup demi biaya sekolah anak dan sesuap nasi.

Wati, seorang pedagang busana yang sudah lebih dari sepuluh tahun berjualan di pasar tersebut, mengaku kondisi sulit ini sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir.

Ia bercerita dengan nada murung, bahwa berjualan pakaian di pasar semakin tak menentu dan nyaris tak ada yang membeli.

“Pedagang busana di sini sudah banyak yang bangkrut. Bayangkan saja, dalam sepekan bisa tidak pecah telur, satu orang pun tidak ada yang berbelanja,” ujar Wati Jumat (3/10).

Menurut Wati, perubahan pola belanja masyarakat akibat perkembangan teknologi menjadi salah satu penyebabnya.

Kini warga lebih memilih membeli pakaian secara online. Selain harganya lebih murah, pilihan dan model yang ditawarkan toko online juga lebih beragam dan model terbaru.

“Kami susah bersaing, orang tinggal klik saja di handphone, barang langsung diantar kerumah,” timpalnya.

Tak hanya pedagang busana yang merasakan dampak sepinya Pasar Tuah Serumpun Tualang.

Ujang, seorang pedagang sayuran asal Sumatera Barat, juga mengaku penurunan pembeli sangat terasa. Pria 50 tahun itu menyebut, mayoritas pengunjung pasar sekarang hanyalah ibu rumah tangga setempat dan sebagian besar pedagang keliling.

“Sekarang yang datang ke pasar ini hanya segelintir orang, sisanya pedagang yang beli untuk dijual lagi keliling pakai motor masuk perumahan atau kampung,” ungkap Ujang.

Ujang juga bilang, semakin menjamurnya kios serba ada di luar pasar juga ikut membunuh keberlangsungan usaha mereka.

“Coba saja lihat di Jalan Jamsostek Perawang Barat, di sana berjejer kios pedagang. Semua ada, dari daging, ikan, sampai kebutuhan sehari-hari. Jadi orang tidak perlu repot lagi ke pasar,” keluhnya.

Bagi para pedagang lama, kondisi ini membuat mereka harus memutar otak agar tetap bisa bertahan. Tidak sedikit yang mencoba mengikuti perkembangan zaman dengan menjajakan dagangan secara online.

“Sekarang kalau mau bertahan, ya harus ikut pola dagang modern. Kami pun belajar berjualan lewat media sosial, minimal ada tambahan pemasukan,” kata Ujang.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa pasar tradisional, yang dahulu menjadi denyut nadi ekonomi rakyat, kini harus berjuang melawan perubahan zaman.

Di sisi lain, perkembangan teknologi membuka akses kemudahan bagi konsumen. Namun di sisi lain, pedagang kecil semakin terpinggirkan jika tidak mampu beradaptasi.

Pasar Tuah Serumpun Tualang adalah cerminan banyak pasar tradisional di daerah lain. Gedung yang berdiri megah pada awalnya kini mulai tampak kumuh dengan kios kosong yang ditinggalkan. Sementara pedagang yang bertahan menghadapi kenyataan pahit, semakin sedikit pembeli yang datang, sementara biaya hidup terus berjalan.

Pemerintah daerah diharapkan tidak menutup mata melihat kondisi ini. Pasar tradisional bukan hanya soal jual beli, tetapi juga ruang interaksi sosial dan penopang ekonomi masyarakat kecil. Tanpa kebijakan yang berpihak, pasar tradisional bisa benar-benar tersingkirkan.

“Kami hanya ingin dagangan kami bisa laku, tidak muluk-muluk. Kalau pasar sepi begini terus, entah sampai kapan kami bisa bertahan,” pungkas Wati menyudahi.

Kini, pedagang Pasar Tuah Serumpun Tualang menggantungkan harapan pada perhatian pemerintah dan strategi berdagang yang baru. Dari menjajakan dagangan di kios sederhana hingga merambah dunia digital. Semua dilakukan demi bertahan hidup di tengah sulitnya ekonomi yang kian tak bisa dibendung.

58 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png