SIAK — Warga Kabupaten Siak ramai memperbincangkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo yang disajikan di salah satu sekolah di Siak, Jumat (17/10).
Pasalnya, menu tersebut tidak menyertakan nasi putih seperti biasanya, melainkan hanya berisi lauk dan sayur.
Foto yang beredar luas di kanal grup WhatsApp menunjukkan isi rantang MBG berupa sepotong daging ayam goreng, kentang goreng, sayur wortel dan buncis, serta satu buah pisang.
Tidak adanya nasi putih pada menu tersebut sontak menjadi bahan perbincangan di kalangan warganet dan orang tua siswa.
Salah seorang warga dengan nada bercanda menulis di grup, “Untuk nasinya bawa dari rumah saja, katanya” disertai emot tertawa.
Komentar itu pun mendapat berbagai tanggapan, ada yang menilai lucu, namun tak sedikit pula yang menganggap penyajian menu tanpa nasi kurang tepat untuk kebutuhan gizi anak sekolah.
Program MBG sendiri merupakan kebijakan nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto, dengan tujuan memberikan asupan bergizi seimbang kepada pelajar di seluruh Indonesia.
Kendati demikian, di Siak, menu yang tersaji tanpa nasi putih ini menimbulkan tanda tanya, apakah menu tersebut sudah sesuai standar pedoman MBG yang dikeluarkan pemerintah pusat?
Salah seorang pengelola dapur MBG di wilayah Siak mengaku bahwa menu tanpa nasi tersebut bukan berasal dari dapur yang dikelolanya.
Ia bilang, “Itu bukan dari dapur MBG kami, mungkin dari penyedia lain. Tapi saya tidak bisa bicara banyak soal itu,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Sabtu (18/10).
Ketika ditanya lebih lanjut sekolah mana yang menerima menu tersebut, ia memilih irit bicara dalam menjawab.
“Saya rasa pihak sekolah atau dinas terkait yang lebih tahu. Mungkin ada penyesuaian menu. Tapi kalau bisa, ada edukasi dulu ke siswa. Kentang sebenarnya juga karbohidrat, tapi anak-anak di sini sudah terbiasa makan nasi,” katanya.
Menurutnya, kentang goreng memang mengandung karbohidrat dan di beberapa negara menjadi alternatif pengganti nasi putih.
Namun demikian, wanita itu bilang, perubahan menu sebaiknya dilakukan dengan sosialisasi terlebih dahulu agar siswa dan orang tua memahami alasan di balik penyajiannya.
“Kalau tidak dijelaskan, orang bisa salah paham. Bisa dikira makanannya kurang,” timpalnya.
Sejauh ini, pihak Dinas Pendidikan maupun penyelenggara MBG di Siak belum memberikan penjelasan resmi terkait perbedaan menu tersebut. Masyarakat pun berharap agar standar penyajian MBG lebih konsisten dan sesuai dengan pola makan biasa di indonesia khususnya di negeri istana, agar tujuan program meningkatkan asupan gizi anak sekolah tidak justru menimbulkan polemik baru di lapangan.








