JAKARTA – Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri, Komjen Chryshnanda Dwilaksana, menegaskan pentingnya proses rekrutmen yang bersih dalam tubuh kepolisian. Jenderal bintang tiga yang juga dipercaya sebagai Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri itu menyebut, dosa paling besar yang bisa mencederai institusi Polri justru terjadi di awal, yakni saat perekrutan anggota.
Menurutnya, apabila sejak awal Polri salah dalam memilih calon anggota, maka kesalahan itu akan terus membekas sepanjang karier orang tersebut.
“Dosa paling besar pada Polri itu adalah saat perekrutan. Kalau merekrut orang yang salah, seumur hidup dia menjadi polisi, itu akan menjadi duri dalam daging di tubuh Polri,” tegas Chryshnanda di Jakarta, Jumat (26/9).
Mantan Dir Lantas Polda Riau itu juga bilang, kualitas sumber daya manusia Polri ditentukan dari proses seleksi yang adil, transparan, dan bebas dari praktik kotor.
“Kalau dari awal main-main, menerima orang yang salah, maka dampaknya bukan hanya pada institusi, tapi juga pada masyarakat yang dilayani. Karena itu, rekrutmen harus benar-benar bersih,” ujarnya.
Chryshnanda menegaskan dirinya tidak ingin Polri menjadi institusi yang lemah akibat kelalaian dalam seleksi anggota. Dengan gaya lugas, ia mengatakan, “Kalau perekrutan tidak bersih, saya tidak tahu bagaimana jadinya Polri di masa depan. Dan saya tidak mau menjadi wakil malaikat untuk membela kesalahan itu.”
Sebagai pejabat yang pernah menjabat Dirlantas Polda Riau, Chryshnanda dikenal vokal dalam menyuarakan perubahan di internal Polri. Ia menilai reformasi kepolisian hanya bisa berjalan apabila pengawasan awal kuat, dan fondasi itu dimulai dari manusia yang direkrut menjadi polisi.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa integritas, disiplin, dan profesionalitas tidak bisa dibentuk jika bibit awalnya sudah bermasalah.
“Tidak mungkin kita mencetak polisi yang humanis, presisi, dan modern dari orang yang sejak awal masuk sudah salah,” pungkasnya.
Pesan tegas Komjen Chryshnanda ini sekaligus menjadi alarm bagi seluruh jajaran agar seleksi penerimaan Polri ke depan tidak lagi dipenuhi praktik curang maupun titipan.
“Rekrutmen adalah pintu masuk. Kalau pintunya saja sudah kotor, jangan harap ke dalamnya akan bersih,” pungkasnya.








