JAKARTA — Gelombang mutasi besar kembali mengguncang tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Dalam daftar mutasi edisi September 2025, sebanyak empat perwira tinggi (Pati) berpangkat Inspektur Jenderal resmi meninggalkan jabatan strategis sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda).
Tiga di antaranya merupakan jebolan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1991 atau dikenal dengan sebutan Batalyon Bharadaksa, satu angkatan dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Mutasi tersebut tertuang dalam Surat Telegram Kapolri tertanggal akhir September 2025, yang diteken oleh Asisten Sumber Daya Manusia (As SDM) Kapolri.
Mutasi ini merupakan bagian dari penyegaran organisasi da
n pembinaan karier di lingkungan Polri. “Rotasi jabatan merupakan hal yang lumrah dalam organisasi. Ini bagian dari strategi memperkuat kinerja kepolisian di tingkat daerah dan pusat,” ujar sumber internal Mabes Polri, Jumat (26/9).
Salah satu nama yang berpindah adalah Irjen Pol Rusdi Hartono, yang sebelumnya menjabat Kapolda Sulawesi Selatan. Rusdi kini ditarik ke Mabes Polri sebagai Perwira Tinggi Bareskrim.
Posisi yang ditinggalkannya kini diisi oleh Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo, yang sebelumnya menjabat Dirtipidum Bareskrim Polri.
“Pergantian ini adalah amanah dan kesempatan baru untuk terus mengabdi kepada masyarakat,” ucap Rusdi singkat saat dikonfirmasi.
Nama lain yang turut masuk dalam daftar mutasi adalah Irjen Pol Hendro Pandowo, eks Kapolda Kepulauan Bangka Belitung. Hendro kini mendapat penugasan baru sebagai Pati Bareskrim Polri. Posisinya digantikan Irjen Pol Viktor Theodorus Sihombing, eks Kepala Divisi Hukum Polri.
“Mutasi adalah bentuk kepercayaan pimpinan agar roda organisasi tetap dinamis dan adaptif,” kata Viktor usai dilantik di Mabes Polri.
Perubahan serupa juga terjadi di Polda Sulawesi Tengah. Irjen Pol Agus Nugroho yang sebelumnya memimpin wilayah tersebut kini dilantik menjadi Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri.
Sementara jabatan Kapolda Sulawesi Tengah diisi oleh Irjen Pol Endi Sutendi, yang sebelumnya menjabat sebagai Waasops Kapolri Bidang Strategi dan Manajemen Operasional (Waastamaops).
Selain tiga jenderal dari Batalyon Bharadaksa, satu nama lain yang turut meninggalkan kursi Kapolda ialah Irjen Pol Helmi Santika, jebolan Akpol 1993.
Dia resmi melepas jabatan sebagai Kapolda Lampung dan kini ditugaskan sebagai Pati di Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) Polri.
“Setiap penugasan baru adalah bentuk kepercayaan. Saya siap melanjutkan amanah ini dengan profesionalisme dan integritas,” tutur Helmi Santika.
Mutasi kali ini menunjukkan dominasi perwira lulusan Akpol 1991 yang masih menempati posisi strategis di Polri. Pengamat kepolisian menilai langkah ini sebagai upaya Kapolri memperkuat soliditas internal dan regenerasi kepemimpinan.
“Dengan menempatkan figur-figur berpengalaman dan loyal, Kapolri ingin memastikan kesinambungan kebijakan serta efisiensi dalam struktur kepemimpinan Polri,” ujar pengamat keamanan nasional, Dr. Rudi Santoso.
Dengan rotasi empat jenderal tersebut, Polri kembali menegaskan komitmennya terhadap sistem pembinaan karier yang berkeadilan dan berbasis kinerja.
Mutasi bukan hanya soal pergantian posisi, tetapi juga penyegaran visi dan strategi agar Polri terus adaptif terhadap tantangan keamanan yang kian kompleks.






