KAMPAR – Di balik derasnya arus Sungai Subayang yang membelah hutan Kampar Kiri Hulu, mengalir pula semangat pantang menyerah dari seorang anak desa bernama Dedi Irawan.
Ia bukan pejabat, bukan pula pengusaha, melainkan sosok sederhana yang menggerakkan perubahan melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batu Dinding, Desa Wisata Tanjung Belit, Kabupaten Kampar, Riau.
Kerja keras Dedi bersama masyarakat setempat kini berbuah manis. Batu Dinding Tanjung Belit berhasil menembus tiga besar nasional dalam ajang bergengsi Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2025, untuk kategori Wisata Air Subayang Rafting.
Capaian ini menjadi bukti bahwa desa di pelosok pun mampu berbicara di tingkat nasional.
“Alhamdulillah, ini bukan hanya kemenangan bagi kami di Tanjung Belit, tapi juga kebanggaan bagi seluruh masyarakat Kampar,” ujar Dedi Irawan Senin (13/10).
Ia mengaku, perjuangan panjang menuju panggung nasional tak lepas dari dukungan masyarakat dan Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar yang membantu proses pendaftaran dan promosi wisata unggulan mereka.
Pemerintah Kabupaten Kampar sendiri telah menerima undangan resmi menghadiri malam puncak API Award 2025 yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 18 November 2025, di Aula Rangkaya, Kantor Bupati Bengkayang, Kalimantan Barat.
Momen ini akan menjadi ajang pembuktian bahwa wisata berbasis komunitas mampu bersaing dengan destinasi nasional lainnya.
Namun di balik gemerlap penghargaan, Dedi tak menutup mata terhadap persoalan mendasar yang masih dihadapi desanya.
“Akses jalan menuju Tanjung Belit masih menjadi tantangan besar. Saat hujan, jalan licin dan sulit dilalui. Tapi kami tidak menyerah. Dari pelosok pun, kami ingin menunjukkan bahwa karya bisa berbicara,” timpalnya.
Ia berharap pemerintah daerah menjadikan perbaikan infrastruktur jalan menuju Tanjung Belit sebagai prioritas utama.
Menurutnya, akses yang baik akan membuka peluang ekonomi baru bagi warga dan meningkatkan kunjungan wisatawan.
“Sekarang saja sekitar 3.000 pengunjung datang setiap bulan. Jika jalan bagus, angka itu bisa berlipat, dan ekonomi warga tentu ikut tumbuh,” harap Dedi.
Dedi juga mengucapkan terima kasih kepada Anggota DPRD Kabupaten Kampar Dapil 6, Eko Sutrisno, yang telah memfasilitasi pertemuan antara Pokdarwis dengan Bupati Kampar Ahmad Yuzar dan Wakil Bupati Misharti.
“Pak Eko sangat membantu membuka pintu komunikasi kami dengan pemerintah daerah. Dukungan beliau menjadi energi baru bagi kami untuk terus maju,” kata Dedi.
Sementara itu, Eko Sutrisno, yang juga Ketua Fraksi NasDem DPRD Kampar, memberikan apresiasi tinggi atas kegigihan masyarakat Tanjung Belit.
“Saya bangga dengan semangat mereka. Pokdarwis Batu Dinding adalah contoh nyata bahwa kemajuan pariwisata tidak harus menunggu proyek besar. Dengan gotong royong dan kecintaan terhadap alam, mereka mampu membawa nama Kampar ke tingkat nasional,” ujarnya.
Eko bilang DPRD Kampar akan mengawal peningkatan infrastruktur dan fasilitas dasar menuju Tanjung Belit, sebagai strategi pembangunan wisata berkelanjutan.
“Wisata bukan hanya soal pemandangan indah, tapi juga tentang akses dan kenyamanan pengunjung. Kami ingin menjadikan Tanjung Belit sebagai ikon wisata Riau yang layak dibanggakan,” tegasnya.
Dengan tebing raksasa Batu Dinding yang berkilau diterpa matahari dan derasnya jeram Sungai Subayang yang menantang, Tanjung Belit kini menjadi simbol kebangkitan pariwisata Kampar.
Dari tepian sungai yang jauh dari hiruk pikuk kota, lahir semangat besar untuk membuktikan bahwa desa kecil pun bisa mencetak prestasi besar di panggung nasional.






