Suasana Debat Publik Calon Bupati Siak
SIAK.~ Debat kandidat Calon Bupati Siak yang berlangsung Sabtu (2/11) malam di Hotel Pangeran Pekanbaru berlangsung seru dengan penuh semangat dan sorak-sorai dari para pendukung.
Tiga pasangan calon (paslon) yang berlaga saling memaparkan visi dan misi mereka untuk memimpin Kabupaten Siak dalam lima tahun mendatang.
Dipandu oleh Vivien Anjadi Suwito, debat berjalan lancar dengan pengawalan ketat pihak kepolisian dari Polda Riau dan Polres Siak, di mana masing-masing paslon Bupati Siak mengklaim memiliki rencana terbaik untuk Siak.
Tema utama debat kali ini adalah, Pelayanan Publik Berbasis Digital dalam Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan yang Akuntabel.
Ketiga pasangan calon mengatakan sepakat akan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam pelayanan publik di Kabupaten Siak. Kendati demikian, setiap paslon memiliki pendekatan yang berbeda dalam mewujudkan hal tersebut.
Paslon nomor urut 1, Irving-Sugianto, menyoroti Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Siak yang menurut mereka perlu dievaluasi secara menyeluruh. Irving menilai bahwa kinerja BUMD di Siak saat ini belum optimal dan bahkan terindikasi nepotisme.
“BUMD di Siak perlu pembenahan total. Jika tidak, akan sulit bagi kita untuk memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujar Irving.
Pasangan dengan Tagline ISO itu berkomitmen untuk mengubah BUMD di Siak menjadi lembaga yang benar-benar produktif dan transparan.
Di sisi lain, pasangan calon nomor urut 2, Afni-Syamsurizal, menyoroti ketergantungan Kabupaten Siak pada dana transfer dari pemerintah pusat. Menurut Afni, ketergantungan ini bisa menjadi kendala dalam jangka panjang jika daerah tidak segera membangun kemandirian finansial.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada pusat. Ketika ada kendala di pusat, kita akan kesulitan. Kita harus cerdas dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan mengedukasi masyarakat Siak agar lebih mandiri,” ungkap Afni dengan penuh keyakinan.
Paslon nomor urut 3, Alfedri, memilih pendekatan yang berbeda. Paslon dengan Tagline SAH itu, menyoroti keberadaan BUMN di Kabupaten Siak yang telah berkontribusi signifikan bagi pembangunan daerah.
Menurut Alfedri, tidak hanya PT Bumi Siak Pusako (BSP) yang berkontribusi, tetapi juga BUMN lainnya, seperti PT SGE dan masih ada BUMN lainnya.
“Kontribusi BSP sudah sangat besar bagi masyarakat Siak. Kita juga punya BUMN lain yang ikut mendorong pembangunan. Ini yang perlu terus kita dukung, dengan melanjutkan kepemimpinan Alfedri-Husni,” kata Alfedri dengan penuh percaya diri.
Debat semakin memanas ketika masing-masing calon mulai mengkritisi program lawan. Irving menekankan bahwa BUMD harus terlepas dari unsur nepotisme untuk mencapai akuntabilitas yang sejati. “Jika BUMD kita bersih dari praktik nepotisme, saya yakin kinerjanya akan meningkat,” tandasnya.
Sementara itu, Afni menyoroti bahwa tanpa kemandirian ekonomi, Kabupaten Siak akan terus bergantung pada pusat. Ia berjanji untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia di Siak guna mencapai tujuan tersebut.
Alfedri pun tak mau kalah. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara BUMN yang ada akan memberikan dampak lebih signifikan bagi masyarakat ketimbang sekadar evaluasi BUMD.
“Jika kita memperkuat sinergi dengan BUMN yang sudah ada, maka manfaatnya akan langsung dirasakan oleh masyarakat. Inilah yang ingin kami capai,” katanya.
Debat yang berlangsung selama lebih dari dua jam ini akhirnya ditutup dengan masing-masing paslon memberikan pernyataan penutup terkait visi dan misi mereka.
Para kandidat berjanji untuk terus berkomitmen dalam memajukan Kabupaten Siak, dengan fokus pada pelayanan publik yang lebih transparan dan peningkatan tata kelola pemerintahan yang akuntabel.








