SIAK — Pemerintah Kampung Pinang Sebatang Timur, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, mengambil langkah cepat menindaklanjuti informasi terkait maraknya anjing liar yang berkeliaran di kampung tersebut.
Setelah menerima laporan adanya kasus gigitan hewan, tim kesehatan hewan (keswan) dari Dinas Peternakan Kabupaten Siak langsung turun ke lapangan melakukan vaksinasi terhadap hewan penular rabies (HPR), terutama anjing.
Penghulu Kampung Pinang Sebatang Timur Darno membenarkan bahwa kegiatan vaksinasi telah dilakukan untuk menekan potensi penyebaran virus rabies di tengah masyarakat.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan. Tim keswan turun langsung melakukan vaksin terhadap anjing yang dipelihara warga. Untuk anjing liar, disepakati bersama akan dimusnahkan,” ujarnya, Sabtu (18/10).
Langkah tegas tersebut diambil untuk menghindari terulangnya kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang sempat meresahkan warga beberapa waktu lalu.
“Kita tidak ingin ada korban lagi. Jadi, semua pihak sudah sepakat bahwa anjing liar yang tidak memiliki pemilik dan tidak divaksin akan segera ditertibkan,” timpal penghulu.
Sementara itu, pihak Puskesmas Tualang juga melakukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan pasien GHPR.
Kepala TU Puskesmas Tualang Rita Marni menyebut pelatihan tersebut penting agar petugas mampu memberikan pelayanan cepat dan tepat kepada warga yang mengalami gigitan hewan.
“Kami tingkatkan kompetensi petugas, karena rabies ini tidak boleh dianggap remeh. Begitu ada gigitan, pasien harus segera ditangani dan diberikan vaksin anti rabies,” ujarnya.
Kegiatan vaksinasi hewan dan peningkatan layanan GHPR ini merupakan tindak lanjut dari informasi awal yang diterima dari Kepala Puskesmas Perawang.
Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan bahwa wilayah Bunut, Pinang Sebatang Timur, memang memiliki populasi anjing liar cukup banyak.
“Informasi awalnya memang kita kira anjing peliharaan yang menggigit korban, tapi setelah dicek ternyata itu anjing liar,” jelas Rita.
Sebagai upaya pencegahan, pemerintah kampung bersama tim medis juga menggelar sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya rabies dan tata cara penanganan bila terjadi gigitan.
Warga diimbau menjaga hewan peliharaan mereka dan tidak membiarkan anjing berkeliaran tanpa pengawasan.
“Kami ajak masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap hewan peliharaannya. Jangan dilepaskan sembarangan, karena risikonya bisa fatal,” kata Rita.
Selain vaksinasi dan sosialisasi, tim peternakan juga melakukan pendataan terhadap populasi anjing peliharaan dan anjing liar di kawasan tersebut. Langkah ini dilakukan agar pengawasan dan pengendalian bisa dilakukan secara berkelanjutan.
“Data populasi penting untuk menentukan langkah ke depan, apakah perlu vaksin tambahan atau penertiban lanjutan,” pungkasnya.
Senada dengan itu, Mantan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, Noni Poningsing, menegaskan bahwa pernyataan yang sebelumnya beredar di sejumlah media bukanlah berasal darinya.
Ia menjelaskan, pernyataan tersebut merupakan statement Kepala Puskesmas Perawang, dr. Armen, yang kemudian diteruskan kepada pihak media. Dengan demikian, Noni menepis anggapan bahwa dirinya memberikan komentar langsung terkait isu yang diberitakan tersebut.
Lebih lanjut, Noni bilang bahwa saat ini dirinya sudah tidak lagi menjabat sebagai Plt Kepala Dinas Kesehatan Siak. Karena itu, ia meminta agar segala bentuk klarifikasi maupun konfirmasi pemberitaan selanjutnya dikomunikasikan langsung kepada pihak yang terkait, baik di Puskesmas Perawang maupun Dinas Kesehatan Siak yang kini dipimpin pejabat baru.
“Saya sudah tidak menjabat lagi, jadi silakan koordinasikan dengan pihak terkait,” pungkasnya menyudahi.








