SUMBAR.— Provinsi Sumatera Barat kembali diterjang rangkaian bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir.
Derita warga semakin dalam: rumah terendam, jalan putus, lahan rusak, dan ribuan orang terpaksa mencari tempat aman.
Berdasarkan laporan lapangan yang dihimpun dari berbagai sumber, bencana terparah tercatat di Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, serta Kabupaten Solok yang dilanda longsor di kawasan Kayu Jao.
Di Pesisir Selatan (Pessel), air bah merendam 23 nagari di Kecamatan Koto XI Tarusan dengan ketinggian mencapai 1,5 meter. Situasi diperparah oleh laporan adanya seorang lansia yang hanyut saat menyeberangi sungai.
“Debit air naik sangat cepat. Warga tidak sempat menyelamatkan barang, yang penting nyawa dulu,” ujar Firdaus, salah seorang relawan tanggap bencana di Pessel.
Tim gabungan BPBD, TNI/Polri, dan relawan terus melakukan pencarian serta evakuasi terhadap warga yang masih terjebak di rumah-rumah yang tergenang.
Di Padang Pariaman, banjir merusak akses penting. Jalan penghubung dua nagari di Kecamatan Lubuk Alung putus total, melumpuhkan mobilitas ribuan warga.
“Ini bukan sekadar banjir, tapi bencana yang memutus denyut kehidupan masyarakat. Kami butuh alat berat dan bantuan segera,” tegas Camat Lubuk Alung, Syahrizal.
Bencana juga melanda Kabupaten Agam, dengan enam kecamatan terdampak banjir dan longsor. Jalan-jalan amblas, jembatan rusak, serta persawahan warga terendam di beberapa titik.
Kerusakan lahan pertanian disebut mengancam mata pencarian warga.
“Sawah kami habis. Kalau ini tak cepat diatasi, kami akan kehilangan hasil panen tahun ini,” ungkap Rosman, petani di Kecamatan Tanjung Raya.
Di Kabupaten Solok, longsor besar terjadi di kawasan Kayu Jao, memutus jalur dan menambah daftar titik rawan yang kini jadi prioritas penanganan.
BPBD Solok saat ini masih fokus pada pembersihan material longsor yang menimbun badan jalan.






