Oleh: Dolly Sandro
17 Agustus 2025
RE.~ Setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan. Ini bukan hanya momen untuk mengingat sejarah perjuangan, tetapi juga waktu untuk merenungkan makna merdeka di kehidupan hari ini.
Kemerdekaan tidak sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari ancaman pencemaran yang merampas hak masyarakat atas lingkungan hidup yang sehat.
Sungai Siak adalah saksi sejarah Riau. Dari masa kerajaan hingga kini, sungai ini telah menjadi jalur perdagangan, sumber air, pangan, bahkan bagian dari budaya masyarakat.
Di HUT RI ke 80 tahun ini, kita perlu bertanya, apakah Sungai Siak sudah benar-benar merdeka dari beban pencemaran?
Kehadiran Perusahaan industri besar seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper (IKPP) di Tualang, Siak, tentu membawa manfaat nyata. Lapangan kerja terbuka, ekonomi daerah bergerak, dan roda pembangunan berputar.
Namun begitu, sebagaimana setiap berkah, selalu ada tanggung jawab besar yang menyertainya.
Limbah cair dari proses produksi pulp & paper adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Yang dapat diatur adalah bagaimana limbah itu diolah sebelum kembali ke Sungai Siak.
Di sinilah manajemen perusahaan diuji, apakah benar-benar menjadikan lingkungan sebagai mitra, atau sekadar faktor kedua setelah produksi.
Sungai Siak adalah nadi kehidupan warga. Ketika kualitas airnya turun, dampaknya terasa pada nelayan, petani, hingga anak-anak yang bermain di tepi sungai. Kemerdekaan warga untuk hidup sehat tak boleh dirampas oleh pencemaran, sekecil apa pun.
Dalam konteks kemerdekaan, suara masyarakat menjadi penting. Mereka berhak menyampaikan keluhan, kritik, maupun saran. Dan perusahaan berkewajiban mendengar, bukan menutup telinga. Karena bangsa yang merdeka adalah bangsa yang menghargai suara rakyatnya.
Perusahaan yang besar tidak hanya diukur dari kapasitas produksinya, tetapi juga dari kelapangan hati manajemennya dalam mendengar aspirasi masyarakat. Komunikasi yang terbuka, transparan, dan menghargai warga adalah bentuk nyata penghormatan pada semangat kemerdekaan.
Regulasi lingkungan dari pemerintah sudah jelas. Namun, kepatuhan saja tidak cukup. Semangat HUT RI seharusnya mendorong perusahaan untuk melampaui batas minimal regulasi dan menetapkan standar yang lebih tinggi demi Sungai Siak yang bersih dan lestari.
Investasi pada teknologi pengolahan limbah modern harus dilihat sebagai investasi jangka panjang. Dengan pengolahan limbah terbaik, perusahaan tidak hanya menjaga sungai, tetapi juga menjaga nama baiknya di pasar internasional yang semakin peduli pada isu lingkungan.
Transparansi adalah kemerdekaan informasi. Publikasi data kualitas limbah cair yang terbuka dan mudah dipahami masyarakat akan menjadi bukti keseriusan PT IKPP menjaga sungai. Rakyat yang tahu kondisi sebenarnya akan merasa dihargai, bukan dikecilkan suaranya.
Sungai yang sehat adalah bentuk penghormatan pada hak asasi manusia. Karena itu, menjaga Sungai Siak bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga moral. Warga berhak atas air bersih sebagaimana mereka berhak atas udara bebas yang dihirup setiap hari.
Kemerdekaan juga berarti kebebasan dari rasa takut. Masyarakat tidak boleh hidup dengan kekhawatiran bahwa air yang mereka gunakan mungkin terkontaminasi. Di titik ini, tanggung jawab perusahaan menjadi bagian dari upaya meneguhkan rasa aman warga.
Ekosistem Sungai Siak juga patut diperhatikan. Ikan, tumbuhan air, dan mikroorganisme adalah bagian dari kehidupan yang saling terkait. Jika mereka terganggu, manusia pun ikut terdampak. Maka menjaga sungai sama artinya menjaga keberlanjutan kehidupan.
Dari sisi ekonomi, sungai yang sehat adalah berkah. Nelayan bisa melaut di sungai tanpa cemas hasil tangkapan berkurang, petani dapat menggunakan air dengan lebih aman, dan peluang pariwisata berbasis sungai pun bisa berkembang.
Perusahaan yang menjaga sungai akan lebih dicintai masyarakat. Relasi harmonis antara industri dan warga akan menjadi modal kokoh bagi pembangunan berkelanjutan. Citra positif ini akan jauh lebih bernilai dibanding sekadar keuntungan jangka pendek.
Di momen HUT RI, kita diingatkan bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan yang merdeka dari kerusakan lingkungan. Kemajuan industri seharusnya berjalan seiring dengan kelestarian sungai, bukan bertolak belakang.
Untuk itu, manajemen PT IKPP perlu menanamkan budaya lingkungan di setiap lini, dari pimpinan puncak hingga pekerja lapangan. Kesadaran bersama akan pentingnya sungai harus menjadi bagian dari identitas perusahaan.
Tidak ada salahnya menjadikan HUT RI sebagai momentum untuk membuat komitmen baru: “Sungai Siak yang Bersih 2045.” Sebuah visi yang memadukan semangat kemerdekaan dengan tekad menjaga lingkungan untuk generasi mendatang.
Warga merdeka ketika bisa bersuara, perusahaan merdeka ketika bisa bertumbuh, dan sungai merdeka ketika bisa mengalir tanpa beban pencemaran. Ketiganya harus berjalan seiring, saling menopang, bukan saling merugikan.
Pada akhirnya, kemerdekaan adalah ruang kebersamaan. Mari kita pastikan Sungai Siak tetap menjadi sumber kehidupan, bukan sumber masalah. Dengan semangat kemerdekaan, mari perusahaan, pemerintah, dan masyarakat bergandengan tangan menjaga nadi kehidupan Riau ini.








