Potret Istana Siak
SIAK.~ Bupati Siak, Dr. Afni Z, melakukan kunjungan pribadi bersama petugas istana, Effendi, untuk melihat kondisi bangunan bersejarah yang telah menjadi ikon kebanggaan masyarakat Melayu Siak. Ahad (8/6) lalu.
Di sana, Afni menemukan sejumlah kerusakan, seperti kusen yang lapuk, plafon yang bocor, serta cat dinding yang mengelupas.
Ia mengaku terkejut dan prihatin melihat kondisi istana yang dulu menjadi tempat bermainnya saat kecil.
Sebagai ikon pariwisata yang selama ini menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), kondisi istana yang memprihatinkan menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Bupati Afni merasa kondisi istana ini sudah saatnya mendapat perhatian serius, tidak hanya demi sektor pariwisata tetapi juga demi menjaga warisan sejarah Siak.
Afni menginstruksikan anak buahnya agar revitalisasi istana segera masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Selain itu, dia juga meminta seluruh kepala OPD dan pihak terkait untuk melihat langsung kondisi istana agar langkah perbaikan bisa segera dilakukan.
“Saya tidak ingin melihat istana ini hanya sekadar bangunan tua yang rusak,” tutur Afni dengan nada haru.
“Ini bukan sekadar fisik bangunan, tapi soal menjaga tuah dan marwah yang telah diwariskan oleh Tuanku Sultan,” ungkapnya.
Bagi Afni, istana ini bukan tempat asing. Ia menuturkan kenangan masa kecilnya yang sering bermain di sekitar istana bersama teman-teman.
“Dulu, saya sering bermain di sini. Istana ini punya cerita bagi saya, dan tentu saja bagi seluruh masyarakat Siak,” ujarnya tersenyum mengenang masa kecil.
Afni juga menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan perbaikan istana demi menjaga kebanggaan masyarakat Melayu Siak.
“Kalau hujan, petugasnya harus menampung air dengan ember. Ini tidak pantas untuk ikon kita. Mari kita coret proyek yang kurang prioritas, dan fokuskan pada yang benar-benar penting. Ini tanggung jawab moral kita semua,” ujarnya.
Ia berharap revitalisasi istana bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah daerah, melainkan wujud kepedulian bersama terhadap sejarah dan kebudayaan.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” pungkasnya menyudahi.








