Rp1,6 Triliun Mengalir ke KITB, Akankah Pengangguran Siak Berkurang?

Jika terwujud, Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB) bakal memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya generasi muda Siak.
Penulis: Dolly Sandro
Kamis, 08 Oktober 2026 | 19:54:00 WIB

SIAK, RIAUEXPOSE.COM — Angin segar bagi perekonomian Kabupaten Siak datang dari Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB).

Investasi senilai sekitar Rp1,6 triliun diproyeksikan masuk ke kawasan industri tersebut dan ditargetkan mampu membuka sedikitnya 700 lapangan kerja dalam dua tahun ke depan.

Besarnya investasi tersebut memunculkan harapan baru bagi masyarakat Siak, khususnya generasi muda yang membutuhkan lapangan pekerjaan.

Pemerintah Kabupaten Siak pun meminta agar peluang yang lahir dari investasi tersebut tidak hanya dinikmati tenaga kerja dari luar daerah, tetapi benar-benar memberdayakan masyarakat lokal.

Bupati Siak Afni Zulkifli secara tegas meminta perusahaan yang akan berinvestasi di KITB memprioritaskan anak-anak muda Siak sebagai tenaga kerja.

“Insya Allah dua tahun dari sekarang tidak kurang dari 700 tenaga kerja akan terserap di satu perusahaan ini saja. Kami tekankan, tolong prioritaskan anak-anak muda Siak,” kata Afni saat penutupan MTQ tingkat Kecamatan Siak di Kampung Langkai, Rabu (7/10/2026) malam.

Afni mengklaim Pemkab Siak tidak ingin investasi bernilai triliunan rupiah tersebut hanya berakhir pada seremoni peresmian tanpa memberikan dampak nyata bagi warganya.

Menurut rival Alfedri-Husni di PSU Siak itu, pemerintah daerah akan memastikan perusahaan memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari kesiapan lahan, perizinan, master plan hingga kesiapan melakukan perekrutan tenaga kerja.

“Saya tidak mau investasi ini hanya gunting pita saja. Saya baru mau meresmikan kalau mereka betul-betul sudah membersihkan lahan, meletakkan duitnya, menyelesaikan izin, membuat master plan dan sudah siap merekrut muda-muda Siak,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Pemkab Siak ingin memastikan investasi yang masuk benar-benar berjalan secara nyata dan memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.

Target penyerapan sedikitnya 700 tenaga kerja dalam dua tahun menjadi salah satu dampak langsung yang diharapkan dari investasi tersebut.

Jika terealisasi, keberadaan industri di KITB berpotensi membuka ruang yang lebih besar bagi generasi muda Siak untuk memperoleh pekerjaan di kampung sendiri.

Tidak hanya tenaga kerja langsung, aktivitas industri juga diproyeksikan memberikan efek ganda terhadap sektor perdagangan, jasa, transportasi, hingga berbagai usaha pendukung lainnya di sekitar KITB.

Dengan demikian, investasi Rp1,6 triliun tersebut tidak berhenti pada pembangunan fasilitas industri, tetapi mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara lebih luas.

Pengembangan KITB juga menjadi bagian dari upaya Pemkab Siak menyiapkan sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah tantangan fiskal daerah, termasuk penurunan Dana Bagi Hasil (DBH).

Afni menilai Siak harus mulai mempersiapkan sektor ekonomi alternatif dan tidak terus bergantung pada minyak dan gas.

“Minyak kita suatu hari akan habis. Kita harus menyiapkan pintu-pintu ekonomi yang lain,” katanya.

Karena itu, KITB wajib menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis industri di Kabupaten Siak.

Pemkab Siak juga membuka peluang kerja sama ekonomi dengan Lembaga Adat Melayu.

Skema tersebut dapat menciptakan sumber pendanaan alternatif bagi lembaga adat sehingga keberlangsungan pelestarian adat dan budaya tidak sepenuhnya bergantung pada APBD.

Afni berharap DPRD, masyarakat, dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan bersama-sama menjaga iklim investasi di Kabupaten Siak.

Menurutnya, keberhasilan investasi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya modal yang ditanamkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang kembali kepada masyarakat.

Dengan investasi sekitar Rp1,6 triliun di KITB, harapan baru kini diarahkan pada terciptanya lapangan kerja, tumbuhnya usaha masyarakat, meningkatnya pendapatan dan lahirnya pusat ekonomi baru di Kabupaten Siak.

Pertanyaan besarnya kini adalah, mampukah investasi tersebut benar-benar memberdayakan masyarakat Siak dan membuka jalan bagi generasi mudanya untuk mendapatkan pekerjaan di daerah sendiri?

Reporter: Dolly Sandro