pengurus Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kota Pekanbaru periode 2025–2030
Pekanbaru – Fenomena meningkatnya angka perceraian di kalangan pasangan muda di Kota Pekanbaru kian mencuat ke permukaan. Sepanjang semester pertama tahun 2025, tak sedikit perempuan di usia produktif, khususnya para ibu muda, yang kini menyandang status janda.
Perempuan usia 31 hingga 41 tahun, yang baru membangun rumah tangga beberapa tahun, kini menjadi kelompok paling rentan mengalami perceraian.
Berbagai faktor menjadi pemicu, mulai dari beban ekonomi, ketidaksiapan mental dalam menjalani pernikahan, hingga lemahnya komunikasi dalam rumah tangga.
Kondisi ini dibahas dalam acara pelantikan pengurus Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kota Pekanbaru periode 2025–2030 yang digelar Senin (21/7/2025) di Aula DPMPTSP Pemko Pekanbaru.
Kepala Kantor Kemenag Kota Pekanbaru, H. Syahrul Mauludi, MA, menyebut lonjakan perceraian di usia muda sebagai “kegelisahan bersama” yang tak bisa dibiarkan berlarut-larut.
“Kita hidup di era penuh distraksi. Banyak yang belum siap menikah, tapi sudah memaksakan. Akibatnya, rumah tangga yang dibangun dengan harapan justru berakhir dalam luka,” ujar Syahrul.
BP4 di bawah kepemimpinan baru Drs. H. Marzai, berkomitmen mengambil peran aktif bukan hanya saat konflik rumah tangga terjadi, tapi sejak jauh hari dengan membekali para remaja dan calon pengantin pemahaman tentang makna pernikahan dan tanggung jawab sebagai pasangan.
“Kami ingin BP4 menjadi tempat yang menenangkan, bukan menghakimi. Tidak semua pernikahan bisa diselamatkan, tapi semua pasangan layak mendapat pendampingan,” ujar Marzai.
Ia mengungkapkan bahwa sejak tahun 2022, rata-rata 1.600 pasangan memilih berpisah setiap tahunnya di Pekanbaru. Ini menjadi kontribusi besar dari total 8.000 kasus perceraian di Provinsi Riau sepanjang 2024.
Selain BP4, berbagai organisasi keagamaan seperti Aisyiyah, Muslimat NU, Wanita Islam, hingga LKK NU akan diajak bergandengan tangan. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat program pembinaan keluarga secara menyeluruh.
Ketua 1 BP4 Provinsi Riau, Zamri, turut menambahkan bahwa kondisi ini merupakan realitas sosial yang perlu dijawab dengan pendekatan yang empatik dan membumi.
“Masalah ekonomi memang mendominasi, tapi ini bukan semata soal materi. Ini sebagai pengingat moral yang harus jadi perhatian bersama. Kita ingin hadir sebagai lembaga yang menyembuhkan, bukan sekadar menasihati,” pungkasnya.








