INDIA.~ Bhoomi Chauhan, seorang mahasiswa yang tengah bersiap melanjutkan perjalanannya ke London, Kamis, 12 Juni, mengalami salah satu pagi paling menegangkan dalam hidupnya.
Ia sudah check-in online dan memiliki kursi 36G di pesawat Air India. Namun siapa sangka, kemacetan yang menjengkelkan justru menjadi penyelamat hidupnya.
Chauhan tiba di Bandara Ahmedabad pukul 12.20 siang—hanya 10 menit terlambat dari jadwal boarding. Dengan napas terengah dan hati berdebar, ia memohon kepada staf maskapai untuk tetap diizinkan naik.
Namun prosedur keselamatan tetap ditegakkan. Permintaannya ditolak. Dia gagal ikut terbang ke London pagi itu.
“Saya benar-benar hancur saat itu,” kenang Bhoomi, suaranya masih menggetar saat menceritakan kembali kejadian tersebut.
“Saya pikir, kalau saja saya berangkat sedikit lebih awal, saya bisa naik pesawat itu.”
Namun hanya 30 detik setelah lepas landas, pesawat yang seharusnya membawanya ke London itu jatuh menghantam pemukiman warga.
Kecelakaan tersebut merenggut 253 nyawa, termasuk seluruh penumpang dan awak di dalam pesawat serta beberapa warga di darat.
Dunia terdiam, dan Bhoomi yang semula larut dalam kesedihan baru menyadari sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.
Apa yang awalnya ia anggap sebagai musibah, perlahan-lahan berubah menjadi momen yang penuh makna. Di balik kecewa yang begitu dalam, tersembunyi berkat yang menyelamatkan nyawanya.
“Saya masih tidak percaya,” ujarnya pelan. “Terkadang, rencana kita tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tapi sekarang saya tahu, mungkin itulah cara Tuhan menjaga saya.”
Kini, Bhoomi menjalani hari-harinya dengan lebih penuh syukur dan kesadaran. Setiap detik terasa seperti hadiah. Dan dalam benaknya, kenangan tentang kursi 36G—kursi yang tak pernah ia duduki—akan selamanya menjadi pengingat bahwa bahkan di tengah kekecewaan paling kelam, bisa saja tersembunyi keajaiban.








