Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Udang Nenek Jadi Andalan Baru di Inhil, Dorong Ekonomi Nelayan Pesisir

IMG 9571
Kadis Perikanan Kabupaten Inhil Saat Meninjau Budidaya Udang
IMG 9571
Kadis Perikanan Kabupaten Inhil Saat Meninjau Budidaya Udang

INHIL. riauexpose.comUdang nenek atau udang ketak (Squilla harpaxSquilla harpax) saat ini sedang ramai dibudidayakan di Kabupaten Indragiri Hilir-Riau sebagai komoditas unggulan bernilai ekonomi tinggi.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (InhilInhil) terus mengakselerasi pencapaian Misi 1 pembangunan daerah, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata, inklusif, dan berkelanjutan.

Salah satu langkah strategis dilakukan melalui penguatan sektor perikanan, dengan udang nenek atau udang ketakudang ketak (Squilla harpax).

IMG 9570
Budi daya udang nenek oleh warga Kabupaten Inhil-Riau

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Inhil, Drs. Eko Rahdippa, MM, Kamis (29/1/2026), menyampaikan bahwa udang nenek memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan nelayan pesisir sekaligus membuka peluang pasar yang luas.

“Udang nenek merupakan komoditas perikanan unggulan dengan nilai jual tinggi dan permintaan pasar yang kuat, baik domestik maupun luar daerah. Ini sejalan dengan visi Bupati dan Wakil Bupati Inhil dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Eko.

Udang nenek banyak ditemukan di perairan pesisir dan muara yang masih alami, terutama di Kecamatan Concong, Kuala Indragiri (Kuindra), Mandah, dan Tanah Merah.

Musim panen berlangsung dari November hingga Maret, dengan produksi harian mencapai 2.000 hingga 5.000 ekor.

Nelayan menangkap udang nenek menggunakan jaring rampus (drift gillnet) saat air pasang, serta dengan cara tradisional numbur saat air surut.

Selain udang nenek, nelayan juga kerap memperoleh hasil tangkapan tambahan seperti kerang dan ikan sembilang, yang turut meningkatkan pendapatan mereka.

Dari sisi harga, udang nenek Inhil tergolong sangat menjanjikan. Ukuran A di tingkat nelayan dibanderol Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per Kg, sedangkan ukuran B berkisar Rp60 ribu hingga Rp100 ribuper Kg.

Saat ini, pemasaran udang nenek Inhil telah menjangkau Batam, Jakarta, hingga Singapura, menjadikannya komoditas berorientasi ekspor regional.

Kecamatan Concong tercatat sebagai sentra penangkapan udang nenek terbesar di Inhil dengan produksi yang relatif stabil sepanjang musim. Untuk menjaga keberlanjutan, Dinas Perikanan Inhil terus memberikan dukungan melalui pelatihan peningkatan kualitas hasil tangkapan serta bantuan alat tangkap ramah lingkungan.

“Kami mendorong nelayan agar tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga menjaga kelestarian sumber daya. Dengan pengelolaan yang tepat, udang nenek dapat menjadi penggerak utama ekonomi pesisir Inhil,” tutup Eko.

Ke depan, dengan dukungan pemerintah daerah dan kolaborasi para pemangku kepentingan, potensi udang nenek diharapkan mampu menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

71 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png