PEKANBARU – Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali menguji kesiapsiagaan tim gabungan di Provinsi Riau.
Hingga Minggu (3/11) Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau terus berjibaku memadamkan titik api yang muncul di sejumlah kabupaten.
Pemadaman dilakukan melalui dua jalur darat dan udara dengan melibatkan armada helikopter water bombing.
Kepala BPBD Damkar Riau, M. Edy Afrizal, mengonfirmasi bahwa tujuh daerah di Riau masih berstatus siaga Karhutla, yaitu Kampar, Pelalawan, Rokan Hulu (Rohul), Siak, Indragiri Hulu (Inhu), Rokan Hilir (Rohil), dan Kota Pekanbaru.
Menurutnya, sebagian merupakan titik api baru, sementara lainnya masih dalam tahap pendinginan lokasi usai pemadaman.
“Saat ini Karhutla masih aktif di tujuh kabupaten/kota. Ada yang baru muncul, ada pula yang masih proses pendinginan. Semua tim terus siaga agar api tidak kembali membesar,” tegas Edy Afrizal.
Dari seluruh wilayah terdampak, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) menjadi salah satu lokasi paling menantang. Kebakaran dilaporkan terjadi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), area konservasi yang kerap dilanda Karhutla hampir setiap musim kemarau.
Karena sulitnya akses dan ketiadaan sumber air di sekitar titik api, tim terpaksa menggunakan helikopter water bombing untuk memadamkan api dari udara.
“Di TNTN, tidak ada sumber air di sekitar lokasi. Jadi satu-satunya cara efektif adalah lewat udara. Kita kerahkan helikopter untuk water bombing agar api tidak menjalar lebih jauh,” ungkap Edy.
Kendati demikian, Edy memastikan bahwa situasi Karhutla di Riau masih dalam kendali. Dia bilang, sebagian besar titik kebakaran kali ini terjadi di lahan mineral, bukan di lahan gambut seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi ini tentu saja membuat proses pemadaman berjalan lebih cepat dan risiko meluasnya api lebih mudah ditekan.
“Karhutla kali ini tidak di lahan gambut, tapi di tanah mineral. Itu membuat pemadaman lebih cepat dan efektif. Namun kita tetap waspada karena arah angin bisa berubah kapan saja,” terangnya.
Selain tim BPBD Damkar Riau, operasi pemadaman juga didukung oleh TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan masyarakat peduli api (MPA). Mereka bahu membahu menjaga agar titik api tidak menjalar ke permukiman dan area perkebunan masyarakat. Sejumlah posko siaga juga telah diaktifkan di wilayah rawan untuk mempercepat respons lapangan.
Pemerintah Provinsi Riau kini tengah memperkuat sistem deteksi dini dan pengawasan lapanganguna mencegah meluasnya Karhutla. Langkah-langkah seperti patroli udara, penyekatan kanal, serta pendinginan area bekas terbakar terus digencarkan.
“Pencegahan tetap lebih utama. Kita ingin kebakaran segera tuntas sebelum hujan turun secara merata,” ujar Edy.
Cuaca panas dan angin kering yang masih dominan di awal November, BPBD Damkar Riau mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Sekali api menyala, sulit dikendalikan. Jangan sampai satu percikan api menimbulkan bencana kabut asap lagi di Riau,” pungkas Edy Afrizal memungkasi.








