Jakarta – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan pentingnya siraman rohani dalam memperkuat mental dan semangat pengabdian aparat kepolisian.
Hal ini ia sampaikan usai mendengarkan tausiah Ustadz Abdul Somad (UAS) Batubara dalam kegiatan keagamaan di Gedung Rupattama Mabes Polri, Jakarta, Senin (30/9).
Menurut Kapolri, kehadiran UAS dengan pesan-pesan religius memberi semangat baru bagi personel Polri dalam mengemban tugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.
“Tausiah yang disampaikan memberikan penguatan, siraman rohani kepada seluruh jajaran agar terus semangat, tegar dalam melaksanakan tugasnya,” ujar Listyo Sigit.
Tema utama kegiatan keagamaan ini mengangkat persoalan besar bangsa, toleransi beragama dalam membangun persatuan dan kesatuan NKRI. Kapolri menekankan, di tengah keberagaman, Polri harus menjadi garda depan dalam menjaga harmoni sosial.
“Kami berdoa agar toleransi terus terjaga, sehingga perbedaan yang ada tetap bisa kita rawat dalam bingkai NKRI,” ucapnya.
Ustadz Abdul Somad dalam tausiah penuh makna mengingatkan pentingnya amanah, kekuatan mental, serta tanggung jawab moral dalam menghadapi tantangan hidup maupun tugas. Ia berujar bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan ruh kebangsaan yang harus dihidupkan dalam setiap sendi kehidupan berbangsa.
“Pesan-pesan yang saya sampaikan berkaitan dengan toleransi, kekuatan mental, serta bagaimana menjadi pribadi yang amanah. Semoga bisa memotivasi personel Polri untuk terus berkhidmat kepada masyarakat,” kata UAS dengan lantang.
Acara ini diikuti ribuan personel Polri, mulai dari jajaran Mabes Polri, polda, polres, polsek, hingga Bhabinkamtibmas yang hadir secara langsung maupun daring. Kegiatan dimulai dengan shalat Jumat yang dipimpin UAS, dilanjutkan doa bersama, lalu pemberian bantuan kepada anak yatim oleh Kapolri bersama UAS sebagai simbol kepedulian sosial.
Tak hanya menyampaikan ceramah, UAS juga mengajak seluruh peserta untuk merenungi kembali nilai-nilai persaudaraan.
“Jangan biarkan perbedaan menjadi sekat, tapi jadikan sebagai kekuatan,” tegasnya, menyoroti kondisi bangsa yang kerap diuji oleh isu-isu intoleransi.
Kegiatan religius tersebut diharapkan bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk mempererat hubungan Polri dengan masyarakat. Dengan kekuatan spiritual, kata Kapolri, aparat kepolisian bisa bekerja lebih ikhlas, sabar, dan berintegritas dalam mengabdi.
Pesan utama dari tausiah itu jelas: menjaga NKRI berarti menjaga persatuan. Dan persatuan hanya mungkin terwujud jika toleransi terus dipelihara.
“Ini menjadi spirit bersama, bahwa di tengah segala perbedaan, kita tetap satu, Indonesia,” pungkas Kapolri menyudahi.








