Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Warga Tualang Tewas Usai Digigit Anjing Liar, Dinkes Ungkap Hal Ini

Warga Tualang Tewas Usai Digigit Anjing Liar, Dinkes Ungkap Hal Ini

Siak Warga Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Riau, dihebohkan dengan kabar meninggalnya seorang pria berinisial SW (43) Jumat (26/9). Pria 43 tahun itu sebelum dinyatakan tewas digigit seekor anjing liar 29 Agustus lalu saat memberi makan ayam peliharaannya.

Peristiwa berawal ketika SW mencoba menghalau seekor anjing liar yang tiba-tiba masuk ke pekarangan rumahnya.

Bukannya lari, anjing tersebut justru menyerang dan menggigit tangan korban. Usai kejadian, SW langsung mendapatkan perawatan di Puskesmas Tualang berupa pembersihan luka dan pemberian obat.

Namun, sesuai prosedur penanganan medis, pihak Puskesmas Tualang menyarankan agar SW melanjutkan pemeriksaan ke Puskesmas Perawang untuk mendapatkan suntikan vaksin anti rabies (VAR) karena fasilitas vaksin di Kecamatan Tualang hanya tersedia di sana.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Siak, Noni Poningsih, melalui keterangan yang dihimpun dari Kapus Perawang  dr. Armen saat dihubungi awak media, Senin (30/9) mengatakan pihaknya tidak lalai dalam penanganan kasus tersebut.

“Pasien datang ke Puskesmas Perawang 29 Agustus dengan keluhan digigit anjing liar di tangan. Saat itu luka sudah dibersihkan dan diobati. Kami sarankan observasi, bila ada demam atau pembengkakan harus segera kembali,” ujar Noni.

Menurut Noni, pihak Puskesmas Perawang tetap melakukan monitoring terhadap kondisi korban. Bahkan, pada hari keempat setelah gigitan, petugas medis menghubungi pasien karena ada keluhan nyeri di tangan.

“Kami lanjutkan dengan vaksinasi VAR pada 11 September. Pasien sudah mendapat dua kali suntikan meski awalnya sulit karena beliau sempat menolak divaksin,” jelasnya.

Lebih lanjut, Noni mengungkapkan bahwa pada 20 September petugas kembali menghubungi keluarga korban untuk vaksinasi lanjutan. Namun, SW kembali menolak.

“Malamnya, sekitar pukul 22.00 WIB, anak korban menelpon bahwa bapaknya sakit. Kami langsung arahkan ke IGD dan segera dirujuk ke RS Lancang Kuning Pekanbaru, karena rumah sakit lain penuh,” kata Noni.

Ia juga bilang, bahwa pemberian vaksin sudah sesuai prosedur medis. Gigitan pada tangan dan kaki dikategorikan berisiko rendah, sehingga vaksin tidak langsung diberikan, melainkan menunggu observasi terhadap anjing yang menggigit.

“Jadi tidak benar kalau kami dianggap lalai. Vaksinasi sudah kami lakukan, bahkan saat pasien keberatan, pihak kami tetap berupaya menyuntikkan,” tegas Noni.

Kasus ini semakin rumit karena saat Satpol PP hendak mengambil sampel kepala anjing untuk uji laboratorium rabies, keluarga korban menolak.

“Mereka tidak mengizinkan karena anjing tersebut ternyata peliharaan keluarga. Padahal hasil labor itu penting untuk memastikan ada atau tidaknya rabies,” ungkapnya.

Noni juga bilang terkait maraknya populasi anjing liar di Kecamatan Tualang dan sekitarnya yang berpotensi memicu kasus rabies.

“Kalau anjing liar tidak ditangani atau dieliminasi, kasus seperti ini akan terus berulang. Sementara ketersediaan vaksin rabies juga sangat terbatas,” ucapnya.

Dinas Kesehatan Siak, kata Noni, kini tengah berkoordinasi dengan Satpol PP dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi ancaman rabies melalui eliminasi anjing liar dan memperketat pengawasan hewan peliharaan.

“Ini peringatan keras bagi masyarakat. Jangan abai jika digigit anjing, apalagi menunda vaksin. Rabies sangat mematikan bila tidak segera ditangani,” pungkasnya menyudahi.

58 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png