Manchester United
MANCHESTER — Manchester United kembali menelan kekalahan menyakitkan saat bertemu rival sekota, Manchester City, dalam laga derby akhir pekan kemarin. Meski hasilnya mengecewakan, pelatih Ruben Amorim menegaskan dirinya tidak akan mengubah filosofi permainan yang telah ia bangun sejak awal.
Amorim baru mencatat delapan kemenangan di Premier League sejak ditunjuk sebagai manajer United tahun lalu. Namun, pria asal Portugal itu tetap yakin sistem yang ia terapkan bisa berhasil dalam jangka panjang.
“Saya tidak akan mengubah filosofi hanya karena satu kekalahan. Kami sedang dalam proses, dan proses itu membutuhkan kesabaran,” ucap Amorim usai laga.
Dalam pertandingan melawan City, United sempat menunjukkan penguasaan bola yang cukup baik. Mereka mampu membangun serangan dari lini belakang hingga ke sepertiga akhir. Walau skor akhir berpihak pada tim biru, tanda-tanda perkembangan permainan United cukup terlihat. Amorim menyebut momen itu sebagai bukti kerja keras pra-musim.
“Kami berhasil memegang bola lebih lama, kami berani membangun dari belakang. Itu adalah langkah positif, meskipun tentu saja kami harus lebih tajam dan konsisten,” jelasnya.
Amorim juga menekankan bahwa perubahan besar bukan solusi saat ini, mengingat klub sudah berinvestasi lebih dari 200 juta pounds untuk mendukung sistemnya.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai fleksibilitas dalam pemilihan pemain menjadi kunci. Salah satunya adalah terkait minimnya kesempatan bermain untuk gelandang muda Kobbie Mainoo. Pemain 19 tahun itu hanya turun sebagai pengganti dalam dua laga terakhir. Padahal, setiap kali dimainkan, ia mampu memberikan energi baru di lini tengah.
“Mainoo punya kombinasi fisik, keterampilan, dan ketenangan yang langka untuk pemain seusianya. Saya pikir United lebih hidup ketika dia ada di lapangan,” ujar eks-gelandang Setan Merah, Owen Hargreaves, dalam analisis pascalaga.
Hal ini sejalan dengan pandangan banyak pihak bahwa Amorim harus berani memberi Mainoo peran lebih besar.
Selain itu, posisi Bruno Fernandes juga menjadi sorotan. Sang kapten sering ditempatkan lebih dalam sebagai gelandang bertahan dalam sistem dua pivot. Namun, hal ini membuat kreativitasnya berkurang di sepertiga akhir lapangan.
“Bruno adalah senjata terbaik kami di area serangan. Menurunkannya terlalu dalam justru merugikan tim,” kata Amorim, mengakui tantangan dalam menyeimbangkan peran pemainnya.
Solusi yang muncul adalah mendorong Fernandes bermain lebih maju, sembari menyesuaikan peran pemain baru seperti Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo. Dengan begitu, United bisa tetap mempertahankan filosofi Amorim, tetapi juga memberi ruang bagi pemain kreatif untuk memaksimalkan potensi mereka.
Kini, tekanan semakin besar bagi Amorim untuk segera mengangkat performa tim. Para suporter ingin melihat hasil nyata, sementara manajemen telah memberi dukungan finansial yang besar. Namun sang pelatih memilih untuk tetap percaya pada proses.
“Kami akan terus bekerja. Saya tahu ini Manchester United, hasil harus datang cepat. Tapi saya percaya cara kami akan membuahkan kemenangan,” tutup Amorim memungkasi.














