Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

30 Tahun Jadi Pengemudi Bajaj, Jajang Bertahan di Tengah Gempuran Ojek Online di Jakarta

30 Tahun Jadi Pengemudi Bajaj, Jajang Bertahan di Tengah Gempuran Ojek Online   di Jakarta

Jakarta – Sejak fajar menyingsing di langit ibu kota, deru bajaj berwarna biru milik Jajang (58) sudah terdengar di sekitar kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.

Pria asal Pemalang, Jawa Tengah, itu telah 30 tahun mengadu nasib di Jakarta sebagai pengemudi bajaj, kendaraan roda tiga yang menjadi ikon jalanan ibu kota sejak lima dekade lalu.

Setiap hari, Jajang memulai rutinitasnya sejak pukul enam pagi. Dengan wajah yang mulai mengerut karena usia, ia mengayuh harapan di balik kemudi bajaj tuanya, mencari penumpang di tengah padatnya lalu lintas dan kerasnya persaingan di jalanan.

“Saya sudah biasa panas, macet, dan debu, yang penting bisa narik buat makan,” ujar Jajang sambil menyeka keringat di dahi.

Namun begitu, kini roda kehidupannya tak lagi berputar semulus dulu. Sejak maraknya ojek online beberapa tahun terakhir, pendapatannya menurun drastis.

“Dulu sebelum ada ojek online, saya bisa narik tiga ratus ribu lebih sehari. Sekarang paling juga seratus ribu, kadang kurang,” keluhnya dengan logat Betawi yang kental.

Menurut pria 58 tahun itu, banyak pelanggan yang beralih ke transportasi berbasis aplikasi karena dianggap lebih praktis dan murah.

“Sekarang orang tinggal pencet HP, bajaj kayak saya makin jarang dicari. Tapi ya gimana lagi, saya nggak bisa main HP kayak mereka,” kata Jajang sambil tersipu malu.

Meski pendapatan menurun, semangat Jajang untuk tetap bekerja tidak pernah padam. Ia menolak berpangku tangan pada nasib.

“Yang penting rezeki halal. Saya kerja bukan buat kaya, tapi buat anak sama istri di kampung,” ucapnya.

Setiap bulan, sebagian dari penghasilannya ia kirim ke kampung halamannya di Pemalang. Istri dan empat anaknya masih menunggu kabar dari sang kepala keluarga yang terus berjuang di ibu kota.

“Saya kangen mereka, tapi kalau pulang lama-lama, paling sekali 4 bulan, siapa yang mau kasih makan. Jadi ya harus kuat,” tutur Jajang.

Kondisi Jajang hanyalah satu potret dari ribuan pengemudi bajaj lain yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.

Transportasi modern mungkin telah mengambil sebagian rezeki mereka, tapi tidak menggoyahkan semangat para pejuang jalanan ini.

“Saya nggak malu kerja begini. Selama masih kuat, bajaj ini tetap saya jalankan. Jakarta boleh keras, tapi saya juga nggak gampang nyerah,” tutup Jajang menyudahi.

62 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png