Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

26 Tahun Siak Berdiri: Dari Arwin hingga Afni, Negeri Istana di Persimpangan Harapan dan Defisit

26 Tahun Siak Berdiri: Dari Arwin hingga Afni, Negeri Istana di Persimpangan Harapan dan Defisit
Screenshot

SIAK – Genap berusia 26 tahun, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, menapaki perjalanan panjang sebagai salah satu daerah otonom hasil pemekaran dari Kabupaten Bengkalis pada tahun 1999.

Di usia yang memasuki seperempat abad lebih ini, Siak telah dipimpin oleh empat sosok bupati dengan karakter dan jejak kepemimpinan yang berbeda, Arwin AS, Syamsuar, Alfedri, dan kini Afni Zulkifli.

Berdiri di atas warisan sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura, kabupaten yang dijuluki “Negeri Istana”ini tumbuh dengan semangat pembangunan dan reformasi sejak awal pemekarannya.

Nama Arwin AS, bupati pertama, melekat sebagai “Bapak Pembangunan Siak”, sosok yang menanamkan keberanian bagi kemajuan kabupaten muda kala itu.

Selama dua periode kepemimpinan, 1999–2009, Arwin berhasil mengubah wajah Siak dari daerah pinggiran menjadi pusat pertumbuhan baru di Riau.

Pada masa itu Arwin menggagas dua proyek besar yakni,  Jembatan Sultanah Latifah dan Jembatan Maredan, yang kini menjadi ikon dan nadi pergerakan ekonomi antarwilayah.

Namun begitu, masa keemasan itu diakhiri dengan noda. Arwin harus menghadapi kenyataan pahit ketika tersandung kasus penyalahgunaan wewenang di penghujung masa jabatannya.

Vonis pengadilan memutuskan Arwin harus menjalani hukuman, tetapi nama dan pengaruhnya tetap hidup di hati masyarakat Siak.

“Meski beliau jatuh karena hukum, Arwin tetap bapak pembangunan kami. Tanpa dia, Siak tidak akan seperti sekarang,” ujar Makmur, tokoh masyarakat Kampung Dalam, Siak saat berbincang dengan awak media, Senin (19/10).

Estafet kepemimpinan kemudian berpindah ke tangan Syamsuar, yang memimpin Siak bersama wakilnya Alfedri selama dua periode.

Di masa inilah Siak mulai dikenal luas secara nasional lewat reformasi birokrasi, penghargaan pelayanan publik, dan tata kelola keuangan daerah yang meraih predikat WTP tujuh tahun berturut-turut.

“Kami bangga karena waktu Pak Syam memimpin, Siak harum namanya. Banyak tamu datang, pariwisata hidup, dan pegawai semangat bekerja,” kata Makmur mengenang era tersebut.

Setelah dipercaya masyarakat untuk duduk di kursi Gubernur Riau, Syamsuar menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada wakilnya, Alfedri, yang kemudian berpasangan dengan Husni Merzadalam Pilkada 2021. Namun, masa kepemimpinan keduanya tak secerah sebelumnya.

Lima tahun berjalan, geliat pembangunan di Siak disebut banyak pihak mengalami tidak adanya kemajuan. Infrastruktur melambat, dunia pendidikan tidak mengalami lompatan berarti.

Bahkan, di era Alfedri-Husni, dua pejabat penting Pemkab Siak,  Kepala BPBD dan Kasatpol PP harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka karena penyalahgunaan wewenang.

Meski Alfedri tak terseret, citra pemerintahan kala itu sempat tercoreng. “Zaman Alfedri, masyarakat mulai kehilangan arah. Banyak yang bilang roda pemerintahan jalan di tempat,” ujar Makmur.

Ketika mencoba peruntungan untuk periode kedua di Pilkada 2024, pasangan Alfedri-Husni harus menelan pil pahit atas kekalahan tipis dari Afni Zulkifli-Syamsurizal, hanya selisih 224 suara.

Persaingan sengit bahkan berujung ke Mahkamah Konstitusi, sebelum akhirnya diputuskan kemenangan bagi Afni-Syamsurizal.

Dilantik oleh Gubernur Riau Abdul Wahid, Afni menjadi bupati perempuan pertama dalam sejarah Kabupaten Siak.

Hanya dalam waktu empat bulan sejak menjabat, ia menunjukkan gaya kepemimpinan berbeda, cepat, terbuka, dan dekat dengan rakyat.

Lewat media sosialnya, Afni aktif menanggapi keluhan warga secara langsung, menjadikannya sosok pemimpin “tanpa jarak.”

“Bupati sekarang memang beda. Kalau kita kirim pesan di Facebook atau Instagram, bisa dibalas langsung. Itu hal baru di Siak,” ucap Makmur, yang mengaku optimis terhadap gaya kepemimpinan Afni.

Namun di balik gebrakan itu, Siak kini dihadapkan pada badai defisit anggaran. Pemangkasan dana operasional di seluruh OPD membuat ribuan ASN, PPPK, hingga tenaga honorer mengeluh. Bahkan, tunjangan dan gaji ke-13 serta ke-14 ikut dipangkas, memicu keresahan di kalangan aparatur.

“Masalah defisit ini ujian besar bagi Afni. Tapi jangan sampai rakyat dan pegawai jadi korban. Kalau uang tak cukup, harusnya pemkab berani audit semua program lama yang boros,” kritik Makmur.

Kondisi fiskal yang menekan ini menjadi perhatian publik, sebab Siak selama ini dikenal sebagai salah satu kabupaten dengan pendapatan tinggi dari sektor migas dan pariwisata. Banyak pihak menilai defisit saat ini adalah dampak dari lemahnya manajemen anggaran di era sebelumnya.

“Siak lahir dari semangat perubahan. Dulu Arwin membangun jembatan penghubung antarwilayah, sekarang Afni harus membangun jembatan kepercayaan antar-generasi,” pungkas Makmur.

Di usia ke-26, Negeri Istana kembali berdiri di persimpangan, antara masa lalu yang penuh warisandan masa depan yang menuntut keberanian baru. Apakah Afni-Syamsurizal mampu membawa Siak keluar dari krisis anggaran dan mengembalikan kejayaan seperti masa Arwin dan Syamsuar? Waktu yang akan menjawab semuanya.

58 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png